Senin, 27 Oktober 2008

My point of view about Tenseness

Jakarta mulai hujan..dan pikiran gw mulai kembali menyusun kerangka imajiner mengenai moment indah versi gw.


Today is Friday..thanx God for this day

Dan bulan ini hujan sudah dimulai, pelan2 membasahi jalan..pohon-pohon mulai kegirangan. Dengan indahnya melambaikan tangan tertiup angin, sambil bersuara pelan “aku muak dengan kalian, yang selalu memberikan keburukan. Polusi dimana-mana, dengan sadis kau tebang semua saudaraku. Kini saatnya ku bergembira, biarkan hujan menenangkan semua. Biarkan kedamaian membasahi semua.”

Aku lelah seharian bekerja, lagipula ini hari Jumat, hari yang indah untuk segera pulang. Berbeda dengan hari Sabtu atau Minggu, untukku hari Jumat adalah hari yang penuh dengan kejutan, kejutan dalam kerjaan dan kejutan untuk bersenang-senang. Dan saat inilah kejutan itu tiba.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5, artinya sebentar lagi waktunya untuk keluar dari tempat panas ini. Dari luar jendela terlihat bumi sudah mulai berubah warna. Abu-abu menjadi warna dominan di angkasa. Akh..hujan akan segera menyapa. Aku rindu saat-saat menikmati belaian hujan, saat tertawa bahagia layaknya anak kecil yang menerima pelukan mesra orangtuanya.

Hari ini tekadku sudah bulat. Aku akan pulang disaat hujan mulai turun. Menikmati suasana kilau bulir-bulir air berjatuhan di depan mata. Melepaskan semua beban, meresapi kenyamanan bersama alam, bersama hujan, bersama semua kenangan. 50 Km/Jam menandai keluguanku..tertawa lepas sepanjang jalan. Meneriakkan kemenangan yang selama ini terpendam.

Tiba di rumah dengan pakaian yang sudah sepenuhnya basah, aku mulai merancang kesendirianku. Dengan perlahan Time Goes On – Laruku mulai menemaniku. Sambil menatap raut muka yang terpampang di cermin kamar, aku mulai menghayati moment ini. Suara rintih hujan sungguh indah diluar sana. Aku mulai merasa hangat, hangat karena kenangan atas semua yang telah terlewati…

Mataku mulai terpejam, merasakan aliran air hangat yang turun dari ujung kepala melewati mata, membasahi seluruh tubuhku. Menikmati relaksasi yang sungguh menenangkan..sekilas bayangan-bayangan orang yang sampai saat ini masi kurindukan mulai bermunculan.

Hujan masih menetesi bumi..ditemani secangkir kopi aku masih menikmati hujan yang indah ini. Menikmati slide foto-foto memori yang telah terjadi. Menikmati aku yang apa adanya, bukan siapa dan bukan mereka. Hanya berusaha menjadi saya yang menikmati raungan vespa, yang senantiasa menikmati kota jogja, walaupun sekarang harus berjuang di kerasnya ibukota, menikmati kebuntuan menjadi mahasiswa yang masih berjuang untuk merdeka.

Ideal or Idealism

Temen gw smalem kawin,,nop sorry,,merit! Nikah dengan bahagia :p hope for the best ya Ati.. Dan gw masih sama aja, datang sendiri, sementara yang laen udah mulai datang berpasangan. Ngga masalah sih,,mungkin yang sedikit bermasalah adalah gw harus menjawab pertanyaan yang sama setiap saat –“kok dateng sendirian?”ato “cewe lo mana!” – duh apa emang kalo datang ke kawinan itu musti berdua ama pasangan yak?! Emang kalo ngga punya pasangan kenapa?! Kok orang-orang seperti memberi ultimatum loe tuh musti begini,,lo musti begitu,,jangan kayak gitu donk !! Jujur aja kalo dari gw sendiri emang menikmati kesendirian dalam berbagai hal – catet yak,,berbagai hal bukan semua hal – gw seneng ke gramedia sendirian, gw seneng berlama-lama di kamar sendirian, gw seneng nonton sendirian, dan gw seneng ke kawinan sendirian. That’s me, that’s what I wanna be and its something that I like to do…so whats wrong with that, its none of your or those people concern.

Baru aja gw nulis begini, terus liat YM ada yang nulis status “jadi orang tuh yang proaktif, jangan reaktif”. Duh ada apa dengan orang-orang yaaa…selalu melihat sesuatu dari balik kain sutra bukan dari balik jendela (hehe sok2an mendramatisir kalimat jadi sangat ngga jelas :p). Maksud gw cuma, siapa sih kita yang berhak menghakimi orang lain dengan cara pandang kita yang jelas2 berbeda dengan mereka. Wong manusia emang diciptakan beragam, gw ngga bisa ngebayangin kalo semua dari kita diciptakan dalam satu rupa, satu bahasa, satu pikiran dan satu kemauan. Dunia bakal monoton, statis dan sangat membosankan. Ideal itu emang baik, tapi memaksakan idealisme menurut gw sangat2 tidak ideal.

Ini bukan alasan pembenaran terhadap sesuatu yang gw yakini itu benar. Ini Cuma ekspresi rasa nyaman yang gw dambakan, yang tidak mengusik orang lain bahkan sampai mencampuri urusan pribadi. Musyawarah kan enak,,ngobrol ngga pake gontok2an,,ngga pake emosi,,ngga pake suara lantang menjurus menantang,,sama2 duduk bersama,,membicarakan banyak hal,,berdiskusi berbagi pendapat. Ehm..jadi kayak pelajaran PPKN :p,,ya sudahlah gw ngantuk ntar malah ngomongin yang aneh2,,

Eniway selamat ya Ati,,semoga mampu menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah wa Rahman. Amien

Senin, 20 Oktober 2008

me as an ordinary

Waktu jalan di kemayoran yang super panjang itu, gw ngeliat motor di depan ga yang muter balik bukan dengan cara yang dianjurkan, yakni memutari putaran yang telah disediakan, tapi dia muter langsung melawan arah berlawanan menerobos rambu larangan yang jelas2 terpampang. Gw dengan kesadaran penuh segera memberi sikap sinis sambil mendumel, menyumpahi pelaku yang menurut gw uda melakukan hal yang bodoh. Kurang dari satu menit, seperti ada palu besar yang menghujam tepat di ujung hidung gw!! Siapa gw yang dengan sombongnya men-cap kebodohan orang lain. Yang dengan sok benar dan sok suci meng-amini diri gw sendiri yang seakan-akan tidak pernah melakukan kebodohan, karena gw yakin juga dengan kesadaran penuh, bahwa gw pernah melakukan kebodohan yang jauh lebih bodoh dari itu. Apa ini memang sifat dasar gw sebagai manusia yang selalu enggan untuk melihat kebelakang, enggan untuk merenungi diri sendiri, selalu dibutakan dengan apa yang terlihat di ujung pupil mata, tapi tidak mau lebih dulu berfikir dan mendengar bisikan di lain hati, selalu mengagungkan hati yang lama, hati yang sudah penuh dengan obsesi dan ambisi, hati yang sudah terbentengi dengan egosime. Well its just me,, and I am just an ordinary guy.