Senin, 30 Maret 2009

Kasih Putih


Menghirup udara segar dipagi hari sungguh sangat menyenangkan. Entah kapan terakhir kalinya aku merasakan embun di tanganku, atau sekedar mencium aroma hijaunya daun yang melambai pelan saat aku menutup mata untuk merasakan keramahannya.

Sudah setahun terakhir ini aku mengemban status baru sebagai seorang junior employee di sebuah perusahaan advertising, di bilangan Jakarta Selatan. Setahun yang penuh dengan perjuangan, lepas dari semua rutinitas yang selalu kulakukan semasa aku aktif sebagai mahasiswa di kota Jogja. Saat ini dengan sangat terpaksa Aku harus melakoni dua peran sebagai seorang karyawan dan juga mahasiswa pasif yang ingin sekali mengecap indahnya gelar sarjana. Hal terakhir ini memang menjadi aktor yang selalu menebar teror ketakutan diwaktu luangku. Takut bila Aku tidak dapat mencapainya, takut bila semua pengorbanan orangtua dan keluargaku menjadi sia-sia, takut bila kemalasan semakin merajaiku dan merubah aku menjadi sosok manusia pesimis, tanpa harapan yang hidup dalam kelambu penyesalan.

Well..live must go on, sungguh sebuah pernyataan simple yang tak mudah untuk dijalani. Bagiku, hidup bukan sekedar memanjakan diri dalam rangkulan tawa, pelukan hangat, dan belaian kemapanan. Hidup layaknya ukiran yang penuh dengan perjuangan, dedikasi serta keseriusan. Hidup bukan sekedar ritual belaka, namun lebih kepada memaknai setiap hal yang terjadi, setiap keringat yang menetes bukan pada dahi sendiri. Setiap luka pada tubuh orang lain, setiap caci yang mendarat di wajah tak berdosa. Memaknai besarnya pengorbanan untuk kehidupan yang lebih baik, bukan untuk diri sendiri melainkan untuk kebahagiaan orang lain.



Namun, tanpa sadar Aku sering mengeluh pada keadaan, melimpahkan derita pada orang yang menyayangiku. Tanpa sebab terkadang Aku menjerit pada dunia agar mengetahui bagaimana kesalnya Aku, agar mereka juga menyisihkan waktu untukku. Harus diakui, egoisme adalah sifat dasar manusia yang dalam suatu kesempatan dapat menjadi sangat memuakkan. Tak terhitung berapa kali aku berpaling dari tatapan seorang pengamen kecil yang berdiri lusuh di bawah teriknya panas matahari, atau tatapan pilu seorang tua renta yang hanya terduduk pasrah di trotoar jalan. Tak terhitung berapa kali aku mencaci dalam hati ketika dalam sebuah bus kota ada seorang pedagang yang setengah memaksa menawarkan barang dagangannya pada para penumpang. Yang tak kuketahui adalah ketika selesai menawarkan barang dagangannya, ia sering berdiri termenung di dekat pintu belakang bus memikirkan nasib anak perempuannya yang sudah 3 hari terkena demam tinggi. Atau keluhan anak tertuanya saat ia tidak mau lagi bersekolah karena malu, malu karena selalu diminta untuk membayar tagihan sekolah yang sudah menunggak selama 5 bulan. Belum lagi tagihan utang sana-sini untuk membiayai hidup yang setiap waktu makin terasa berat.



Sungguh tragis saat Aku menghakimi kerja seseorang yang justru sedang berusaha keras mendapatkan hidup yang lebih baik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk mereka yang ia sayangi. Mungkin itulah kasih putih yang selama ini masih menjadi angan didalam bayanganku, kasih sesungguuhnya yang mereka sebut sebagai cinta.

Mungkin itulah wujud cinta pada kehidupan, bukan pada kehormatan atau kemakmuran, bukan pada sebuah sosok yang memberi keindahan atau keceriaan. Bukan pada sebentuk harta yang berkilau tawa, yang terkadang membuat seseorang lupa hakikat menjadi manusia yang menghargai arti sebuah kehidupan. Karena cinta itu suci,tanpa syarat tanpa rekayasa. Dan kita adalah manusia, sudah selayaknya menghargai kehidupan dengan cinta.

Selasa, 24 Maret 2009

Hitam dan Mengental..


Kopi seringkali menjadi teman setia para pekerja, termasuk saya. Secangkir kopi setiap hari selalu menjadi menu utama yang kerap menemani, entah sekedar sebagai pemanis mulut atau penghilang rasa kantuk. Ehm..penghilang rasa kantuk atau hanya sekedar kamuflase untuk menutupi rasa lelah yang enggan untuk diungkapkan?!


Setiap individu kerap menjadi pribadi lain untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungannya, tak terkecuali saya. Menjadi seseorang yang mengingkari keadaan..itu juga saya. Selalu berusaha untuk dapat diterima dengan baik bahkan berharap menjadi idola...saya juga. Bertingkah hiperaktif dan terkadang malah terkesan bodoh..guess who,,yup its me again!!

Well at least saya tidak malu untuk mengakui bahwa saya memang terkadang bermimpi menjadi bunglon, bermimpi menjadi orang yang mampu berdiri tegak di setiap saat. Berharap dapat mengendalikan setiap permasalahan tanpa harus bersusah payah, berkeluh kesah sampai mengorbankan waktu, tenaga dan perasaan.


They said life is unfair,, well i say.. nothing is fair!

Hidup adalah untuk kita tentukan sendiri, baik dan buruknya adalah untuk kita nikmati. Layaknya sebuah kopi yang dibuat dengan penuh harapan. Manisnya tercampur sesuai keinginan..pekatnya terasa seperti sebuah perjuangan. Akankah kita terbuai dengan manis sesaat untuk kemudian meninggalkan hitam yang semakin pekat dan mengerak...?

Rabu, 18 Maret 2009

Sebelum Alpha selalu ada Omega

Sewaktu SMA saya dipanggil cibo karena satu dan banyak hal yang akhirnya mengkerucut menjadi satu alasan pasti, yang adalah disebabkan oleh bukan lain karena saya (hehe maap muter2 ngomongnya) semasa SMA selalu lebih banyak menghabiskan waktu dengan kepala botak dan alasan kedua adalah mata saya sangat sipit bahkan nyaris menghilang. Sehingga ketika dua alasan tadi digabungkan oleh serombongan anak muda yang senang mempermainkan kata, ditambah lagi dengan maraknya julukan2 aneh semasa SMA.. maka terciptalah nama C I B O :

* C I: Cina (sedikit rasis tapi inilah kenyataan)
* B O: Botak (bukan seorang shaolin, tapi hanyalah korban mode waktu itu)

Anyway..inilah saya, seorang pemuda berusia 23 tahun (sebentar lagi 24 dink), yang saat ini masih berstatus mahasiswa penggembira yang berdalih lebih memilih untuk bekerja ketimbang menyelesaikan skripsi dan kemudian menjadi sarjana muda yang belum tentu jelas masa depannya.

Inilah saya yang saat ini bangga belum lulus kuliah namun sudah mampu membiayai sebagian pengeluaran hidup saya dan keluarga, walaupun terkadang masih bersikap manja dan sedikit lupa diri saat menghabiskan waktu luang bersama beberapa teman. Tapi yang jelas saya masih tahu diri, bahwa keluarga saya saat ini masih dan akan membutuhkan saya untuk bersama-sama mencapai kehidupan yang lebih baik. Jadi ada baiknya kalau sikap manja saya tidak kelewat batas.

Saya tidak akan meminta mobil atau kendaraan lainnya yang bukan milik saya, meminta tambahan dana yang bukan penghasilan saya, meminta penghormatan tidak pantas saya dapatkan.

Masa kuliah saya habiskan di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Yogyakarta. Menghabiskan masa lima tahun disana benar2 indah, menyisakan banyak kenangan, kenakalan, kegembiraan, dan kesengsaraan. Yaa maklumlah sebagai anak perantauan dan layaknya mahasiswa lainnya, saya juga menggunakan kost sebagai sarana tempat tinggal untuk menghabiskan waktu dan menghabiskan penat,,hehehe.. saya yakin anda lebih tahu :p

Meresapi hidup dan merancang masa depan memang diawali dengan sebuah keinginan dan terkadang cara misterius juga menjadi faktor X yang sangat menentukan. Harapan awal kuliah di jogja buat remaja lelaki usia 18 tahun jelas adalah untuk merasa bebas, jauh dari pantauan orang tua sekaligus mencari rimba baru untuk ditaklukkan :p

Namun selama 5 tahun tinggal dan berbagi suka dan duka dengan kota Gudeg, timbul perasaan yang lebih bertanggung jawab. Terkadang tiap malam sering merenungkan perjalanan hidup, semasa kecil sampai dewasa termasuk kondisi masing2 anggota keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa waktu terus berjalan, usia terus bertambah dan kesempatan terus terkikis.

Kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, kesempatan membahagiakan mereka dan orang2 terdekat, kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih layak dan sejahtera..bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga dengan orang tua dan keluarga. Dasar itulah yang kemudian sedikit memacu untuk lebih maju, ditambah jalan misterius yang memberikan kesempatan bagi saya untuk bekerja di Jakarta.. deket rumah pula (senangnya,,hehe..).

As the day continue to roll..saya masih disini berharap semuanya menjadi lebih baik. Berharap tidak berujung pada akhir yang buruk..berharap Omega tercapai dengan sempurna..