Kamis, 09 Juli 2009

YUCK FOU... Butut Shoes Forever



Gw punya sepatu butut banget, bentuknya uda ngga jelas, dekil, kotor, robek dimana-mana, dan selalu bikin miris hati setiap orang yang ngeliat. Tapi kok yaa gw tetep bangga ya makenya..heran juga euy?! Dulu waktu masi sekolah dari sd-smp gw selalu ngerengek pengen punya sepatu bagus,,paling ngga yang lagi happening walaupun KW 1 or 2 ga masalah yang penting model sama. Gw inget banget bokap-nyokap gw ampe bingung mo nyari dimana, duit juga mepet, tapi anaknya tetep ngotot minta dibeliin... dan gw selalu masang muka cemberut (padahal sih tampang gw uda ancur dari dulu :p) sampe akhirnya nyokap-bokap nyerah, dan akhirnya gw dibeliin sepatu nike yang emang lagi happening banget waktu itu dengan model air jordan. Biarpun abal-abal tapi yang penting gw punya sepatu baru dan gw yakin kalo gw ga bakalan ngerasa minder lagi kalo ke sekolah. Hahahahaha..kalo inget jaman dulu emang banyak banget kemauan gw yang aneh-aneh, bahkan cenderung maksain. Untungnya sekarang agak mendingan (*agak :p)



Balik lagi ke sepatu butut gw dengan brand yang very-very unfamous, harganya aja cuma 20 ribu rupiah!! Sepatu ini sebetulnya uda generasi kedua, yang pertama itu gw pake waktu masih aktif kuliah (*alasan pembenaran untuk status mahasiswa abadi :p). Sekarang saat gw uda mulai kerja, gw tetep pake sepatu murahan ini, yang pada akhirnya pasti bakal jadi sepatu butut juga. Ngga tau kenapa setiap gw pake sepatu ini, gw selalu merasa nyaman dan pastinya pede abies,,hwahahahaha. Awalnya gw pikir sepatu ini cuma jadi cermin semu dari pribadi gw yang minim dan selalu berusaha gw sembunyiin demi "menghormati" sebagian besar manusia-manusia Indonesia yang sempurna ini.



Tapi ngga jugaa tuh...buktinya sekarang berkat sepatu butut ini, dengan lantang gw bisa bilang kalo gw menolak berbagai macam protokol resmi yang selalu diwajibkan demi dianggap sebagai manusia yang berpendidikan, elite, gaul dan apapun status indah yang mereka impikan... yang menurut gw itu semua cuma demi prestise sosial semata. YUCK FOU



setiap debu yang nempel di sepatu ini di setiap hari, setiap waktu.. buat gw bukanlah benalu tapi adalah semangat baru yang membedakan gw dengan mereka yang lebih memilih hidup di atas status yang ambigu.



Lepas dari kekangan, berani berbicara lantang dengan alasan yang masuk akal. Bertindak nyata tanpa embel apa-apa. Bukan untuk diakui atau diagungkan, tapi untuk menjadi pribadi yang menerima keberadaan diri yang sesungguhnya.




Sepatu butut... Dekil, robek dimana-mana, agak bau, bentuknya uda ngga jelas..dan saya suka!

*Tapi kalo lagi ke nikahan,,teteup sih gw ganti sepatu (hahaha..ga berpendirian banget yak, biarin :p).

Kamis, 25 Juni 2009

"Garuda di dadaku" ber-"Transformers" menjadi "King"

Horee musim liburan sudah tiba,,ini musim paling ditunggu oleh sebagian besar anak sekolah. Pastinya juga di musim liburan ini sudah dibanjiri oleh banyak hiburan, salah satunya di dunia perfilman.

Sedikit miris bercampur bingung ketika bangsa Indonesia yang semakin maju dan semakin pintar dalam berbagai hal, namun secara bersamaan juga semakin menurun kualitas nasionalisme-nya.

Hehe..mungkin gw juga salah satu dari banyak bangsa Indonesia yang lebih memilih kenikmatan atau lebih tepatnya lebih memilih gengsi!

Secara bersamaan 3 film diputar di seluruh Indonesia, 2 film nasional dan 1 film luar,,dan uda bisa ketebak,, film luar mendominasi :p

Sebetulnya kmaren gw juga pengen banget nonton "Transformers",,dan seperti penonton lainnya juga harus kecewa karena ngga dapet tiketnya. akhirnya pilihan jatuh untuk nonton film King. Hihi..disini nih mirisnya,,film lokal menjadi alternatif kalo ngga bisa dapet tiket buat nonton film luar.

Kalo mo jujur,,emang sih kebanyakan film indo caur2 dan cuma berkualitas sinetron. Tapi khusus "King" dan "Garuda di dadaku",,gw rasa sudah selayaknya dapet apresiasi lebih dari bangsa indonesia, khususnya keluarga Indonesia.

Ga seru kalo gw ceritain kisahnya,,cuma di film "King" ini secara ga langsung gw bener2 terharu sama kisah Indonesia yang diangkat dari film ini,,mungkin kalo ga bisa nahan,,gw uda nangis nontonnya...karena emang beberapa adegan di film ini bener2 nyentil sisi humanisme dan rasa nasionalis gw.


"Garuda di dadaku - Transformers - King"

Pilih menjadi anak bangsa yang berjiwa "nasionalis",,atau anak papa-mama yang suka "berganti" haluan,,apa anak muda yang bermental "juara"??



PS:
"Guntur ngga salah kok kalo ga suka naek Bumble bee yang ga punya Garuda di dada-nya"

Senin, 30 Maret 2009

Kasih Putih


Menghirup udara segar dipagi hari sungguh sangat menyenangkan. Entah kapan terakhir kalinya aku merasakan embun di tanganku, atau sekedar mencium aroma hijaunya daun yang melambai pelan saat aku menutup mata untuk merasakan keramahannya.

Sudah setahun terakhir ini aku mengemban status baru sebagai seorang junior employee di sebuah perusahaan advertising, di bilangan Jakarta Selatan. Setahun yang penuh dengan perjuangan, lepas dari semua rutinitas yang selalu kulakukan semasa aku aktif sebagai mahasiswa di kota Jogja. Saat ini dengan sangat terpaksa Aku harus melakoni dua peran sebagai seorang karyawan dan juga mahasiswa pasif yang ingin sekali mengecap indahnya gelar sarjana. Hal terakhir ini memang menjadi aktor yang selalu menebar teror ketakutan diwaktu luangku. Takut bila Aku tidak dapat mencapainya, takut bila semua pengorbanan orangtua dan keluargaku menjadi sia-sia, takut bila kemalasan semakin merajaiku dan merubah aku menjadi sosok manusia pesimis, tanpa harapan yang hidup dalam kelambu penyesalan.

Well..live must go on, sungguh sebuah pernyataan simple yang tak mudah untuk dijalani. Bagiku, hidup bukan sekedar memanjakan diri dalam rangkulan tawa, pelukan hangat, dan belaian kemapanan. Hidup layaknya ukiran yang penuh dengan perjuangan, dedikasi serta keseriusan. Hidup bukan sekedar ritual belaka, namun lebih kepada memaknai setiap hal yang terjadi, setiap keringat yang menetes bukan pada dahi sendiri. Setiap luka pada tubuh orang lain, setiap caci yang mendarat di wajah tak berdosa. Memaknai besarnya pengorbanan untuk kehidupan yang lebih baik, bukan untuk diri sendiri melainkan untuk kebahagiaan orang lain.



Namun, tanpa sadar Aku sering mengeluh pada keadaan, melimpahkan derita pada orang yang menyayangiku. Tanpa sebab terkadang Aku menjerit pada dunia agar mengetahui bagaimana kesalnya Aku, agar mereka juga menyisihkan waktu untukku. Harus diakui, egoisme adalah sifat dasar manusia yang dalam suatu kesempatan dapat menjadi sangat memuakkan. Tak terhitung berapa kali aku berpaling dari tatapan seorang pengamen kecil yang berdiri lusuh di bawah teriknya panas matahari, atau tatapan pilu seorang tua renta yang hanya terduduk pasrah di trotoar jalan. Tak terhitung berapa kali aku mencaci dalam hati ketika dalam sebuah bus kota ada seorang pedagang yang setengah memaksa menawarkan barang dagangannya pada para penumpang. Yang tak kuketahui adalah ketika selesai menawarkan barang dagangannya, ia sering berdiri termenung di dekat pintu belakang bus memikirkan nasib anak perempuannya yang sudah 3 hari terkena demam tinggi. Atau keluhan anak tertuanya saat ia tidak mau lagi bersekolah karena malu, malu karena selalu diminta untuk membayar tagihan sekolah yang sudah menunggak selama 5 bulan. Belum lagi tagihan utang sana-sini untuk membiayai hidup yang setiap waktu makin terasa berat.



Sungguh tragis saat Aku menghakimi kerja seseorang yang justru sedang berusaha keras mendapatkan hidup yang lebih baik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk mereka yang ia sayangi. Mungkin itulah kasih putih yang selama ini masih menjadi angan didalam bayanganku, kasih sesungguuhnya yang mereka sebut sebagai cinta.

Mungkin itulah wujud cinta pada kehidupan, bukan pada kehormatan atau kemakmuran, bukan pada sebuah sosok yang memberi keindahan atau keceriaan. Bukan pada sebentuk harta yang berkilau tawa, yang terkadang membuat seseorang lupa hakikat menjadi manusia yang menghargai arti sebuah kehidupan. Karena cinta itu suci,tanpa syarat tanpa rekayasa. Dan kita adalah manusia, sudah selayaknya menghargai kehidupan dengan cinta.

Selasa, 24 Maret 2009

Hitam dan Mengental..


Kopi seringkali menjadi teman setia para pekerja, termasuk saya. Secangkir kopi setiap hari selalu menjadi menu utama yang kerap menemani, entah sekedar sebagai pemanis mulut atau penghilang rasa kantuk. Ehm..penghilang rasa kantuk atau hanya sekedar kamuflase untuk menutupi rasa lelah yang enggan untuk diungkapkan?!


Setiap individu kerap menjadi pribadi lain untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungannya, tak terkecuali saya. Menjadi seseorang yang mengingkari keadaan..itu juga saya. Selalu berusaha untuk dapat diterima dengan baik bahkan berharap menjadi idola...saya juga. Bertingkah hiperaktif dan terkadang malah terkesan bodoh..guess who,,yup its me again!!

Well at least saya tidak malu untuk mengakui bahwa saya memang terkadang bermimpi menjadi bunglon, bermimpi menjadi orang yang mampu berdiri tegak di setiap saat. Berharap dapat mengendalikan setiap permasalahan tanpa harus bersusah payah, berkeluh kesah sampai mengorbankan waktu, tenaga dan perasaan.


They said life is unfair,, well i say.. nothing is fair!

Hidup adalah untuk kita tentukan sendiri, baik dan buruknya adalah untuk kita nikmati. Layaknya sebuah kopi yang dibuat dengan penuh harapan. Manisnya tercampur sesuai keinginan..pekatnya terasa seperti sebuah perjuangan. Akankah kita terbuai dengan manis sesaat untuk kemudian meninggalkan hitam yang semakin pekat dan mengerak...?

Rabu, 18 Maret 2009

Sebelum Alpha selalu ada Omega

Sewaktu SMA saya dipanggil cibo karena satu dan banyak hal yang akhirnya mengkerucut menjadi satu alasan pasti, yang adalah disebabkan oleh bukan lain karena saya (hehe maap muter2 ngomongnya) semasa SMA selalu lebih banyak menghabiskan waktu dengan kepala botak dan alasan kedua adalah mata saya sangat sipit bahkan nyaris menghilang. Sehingga ketika dua alasan tadi digabungkan oleh serombongan anak muda yang senang mempermainkan kata, ditambah lagi dengan maraknya julukan2 aneh semasa SMA.. maka terciptalah nama C I B O :

* C I: Cina (sedikit rasis tapi inilah kenyataan)
* B O: Botak (bukan seorang shaolin, tapi hanyalah korban mode waktu itu)

Anyway..inilah saya, seorang pemuda berusia 23 tahun (sebentar lagi 24 dink), yang saat ini masih berstatus mahasiswa penggembira yang berdalih lebih memilih untuk bekerja ketimbang menyelesaikan skripsi dan kemudian menjadi sarjana muda yang belum tentu jelas masa depannya.

Inilah saya yang saat ini bangga belum lulus kuliah namun sudah mampu membiayai sebagian pengeluaran hidup saya dan keluarga, walaupun terkadang masih bersikap manja dan sedikit lupa diri saat menghabiskan waktu luang bersama beberapa teman. Tapi yang jelas saya masih tahu diri, bahwa keluarga saya saat ini masih dan akan membutuhkan saya untuk bersama-sama mencapai kehidupan yang lebih baik. Jadi ada baiknya kalau sikap manja saya tidak kelewat batas.

Saya tidak akan meminta mobil atau kendaraan lainnya yang bukan milik saya, meminta tambahan dana yang bukan penghasilan saya, meminta penghormatan tidak pantas saya dapatkan.

Masa kuliah saya habiskan di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Yogyakarta. Menghabiskan masa lima tahun disana benar2 indah, menyisakan banyak kenangan, kenakalan, kegembiraan, dan kesengsaraan. Yaa maklumlah sebagai anak perantauan dan layaknya mahasiswa lainnya, saya juga menggunakan kost sebagai sarana tempat tinggal untuk menghabiskan waktu dan menghabiskan penat,,hehehe.. saya yakin anda lebih tahu :p

Meresapi hidup dan merancang masa depan memang diawali dengan sebuah keinginan dan terkadang cara misterius juga menjadi faktor X yang sangat menentukan. Harapan awal kuliah di jogja buat remaja lelaki usia 18 tahun jelas adalah untuk merasa bebas, jauh dari pantauan orang tua sekaligus mencari rimba baru untuk ditaklukkan :p

Namun selama 5 tahun tinggal dan berbagi suka dan duka dengan kota Gudeg, timbul perasaan yang lebih bertanggung jawab. Terkadang tiap malam sering merenungkan perjalanan hidup, semasa kecil sampai dewasa termasuk kondisi masing2 anggota keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa waktu terus berjalan, usia terus bertambah dan kesempatan terus terkikis.

Kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, kesempatan membahagiakan mereka dan orang2 terdekat, kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih layak dan sejahtera..bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga dengan orang tua dan keluarga. Dasar itulah yang kemudian sedikit memacu untuk lebih maju, ditambah jalan misterius yang memberikan kesempatan bagi saya untuk bekerja di Jakarta.. deket rumah pula (senangnya,,hehe..).

As the day continue to roll..saya masih disini berharap semuanya menjadi lebih baik. Berharap tidak berujung pada akhir yang buruk..berharap Omega tercapai dengan sempurna..

Kamis, 18 Desember 2008

Hari ini hari Jumat,,dan gw lg pake batik ;p

rencana uda gw rancang,,libur 2 minggu siap dinikmati..preekk tau2 badai tsunami mulai terbentuk,,libur gw terancam batal,,duhhh tanggal 30-31 ini gw kudu stand by di kantor,,expect for the worse kata atasan. emang derita gw jadi anak baru,,jadi junior,,kompensasi kagak seberapa,,tapi kerjaan..duilee gile benerr.

tapi semua ini lebih sebagai pengorbanan buat TVC pertama gw,,moga2 semua lancar,,pre pro lancar,,eksekusi lancar,,post lancar,,dan akhirnya bisa dapet kredit yang memuaskan dari semuanya :p...amien.

ehm..kapan ya bisa nabung yang bener,,perasaan abis mulu tiap bulan,,kagak ada jejak,,lah pan gw juga mo punya masa depan yakk,,kok kyknya susah amat yakk :p

someday i'll fly you both to the happies place,,just for fun and enjoy every single moment you may have,,mom&dad just wait and see..that day surely come!

Senin, 01 Desember 2008

Laptop mahal untuk pegawai bengal

Barusan gw liat berita kalo pemprov DKI mengajukan proposal untuk membeli laptop seharga 35 juta per unit!! 35 juta per unit??!! Duh buat apaan sehh laptop semahal itu,, emang mereka bisa mengoptimalkan pemakaian laptop seharga 35 juta,, paling-paling juga buat nge-game,,nge-net,,ngetik proposal bakal cari duit lagi. Alasannya sih buat memaksimalkan kerja,,terutama saat presentasi di depan investor. Kok gw ngeliatnya laptop jadi buat gaya2an di depan bos besar,, pengen nunjukkin ke investor kalo mereka itu pegawai pemerintah yang kredibel,,yang memiliki kuasa,, yang bisa meluluskan proyek mereka..asal mereka bisa kasih kompensasi,, paling ngga kalo mobil kudu yang extraordinary,,soalnya laptop yang mereka pake buat presentasi aja extraordinary..35 juta!!

Kalo gw ngebayangin pas presentasinya,,pasti bapak2 dan ibu pemprov DKI bakal berkelakuan begini di depan investor:

A : Pemprov DKI
B : Investor


A : Jadi Pak..kualitas adalah hal utama yang harus diperhitungkan ! Ingat Pak..diperhitungkan!! Seperti sekarang presentasi saya untuk Bapak dengan memperhitungkan setiap detail yang akan saya presentasikan. Termasuk laptop yang saya bawa. Inilah perhitungan yang akan membawa keberhasilan bersama,,hwahaha..haha.haha…

B : Laptop Anda itu kecil dan bagus yaa..terlihat sungguh elegan.

A : Betul sekali Pak.. yang besar-besar mah sudah ketinggalan jaman, selain berat juga gampang terlihat. Kami pegawai pemprov kan professional,,selalu mengutamakan kerja yang maksimal tanpa harus diketahui public.

B : Ouw..jadi itu rahasia para pegawai pemprov..sungguh berkualitas.

A : Sekali lagi,, kami memang selalu bekerja mengutamakan kualitas. Dengan adanya laptop ini, kami merasa pekerjaan kami akan semakin berkualitas. Meeting menjadi lebih mudah dan rahasia laporan pekerjaan makin terjamin.

B : Wah bagus itu..berarti laporan pekerjaan lainnya juga akan tertangani dengan baik.

A : Jelas..sejak adanya laptop ini 10 tender langsung berhasil, dan hanya memakan 8 Giga dari 1000 Giga yang tersedia di laptop ini. Bayangkan berapa banyak tender lagi yang bisa dimaksimalkan. Hahaha..ini semua kan juga untuk keberhasilan bersama,,hahahaha…

B : Hahaha…

A : Dan untuk memaksimalkan kualitas pekerjaan,,kami selalu memiliki asisten yang akan membantu saya dan kepala dinas bagian lainnya dalam mengoperasikan laptop. Ini semua demi kualitas Pak..

B : Hah?! Maksud Anda, bukan Anda sendiri yang mengoperasikanya?!

A : Oooo..tetap saya donk Pak. Cumaa..saya tidak mengoperasikan secara langsung. Seperti saya bilang ini semua demi kualitas, maka saya menggunakan asisten untuk mengoperasikannya. Namun tetap saya otak utama di setiap pekerjaa, asisten kan hanya membantu saja. Yah, hitung-hitung juga saya juga berperan meringankan beban para pengangguran,, bukan begitu Pak..?!!

B : “ Engg Ingg Engg… ”